Memperingati mother's day tanggal 08 May 2016 kemarin, saat ini saya mau menuliskan sedikit mengenai Ibu saya. Foto perempuan dengan kebaya warna kuning diatas adalah Ibu saya, saat ini usianya hampir memasuki 60 tahun.
Sejak lahir, saya diberi susu formula karena ASI nya tidak lancar. Saya juga diurus baby sitter karena beliau bekerja (bahkan sampai saat ini beliau masih aktif bekerja di kantor membantu Ayah saya). Dan menurut cerita, sewaktu bayi saya juga tidak pernah dimandikan oleh beliau karena Ibu saya terlalu takut untuk memandikan bayi merah. Jadi saya dimandikan oleh baby sitter atau oleh Ayah saya jika kebetulan baby sitter berhalangan masuk.
Ibu saya bukan tipikal ibu rumah tangga. Dia tidak bisa memasak dan tidak pandai menyetrika. Jadi soal makanan di rumah, biasanya dimasak oleh Oma saya yang saat itu masih hidup atau bahkan oleh Ayah saya (dia jago sekali memasak, nanti kapan-kapan saya tulis tentang Ayah ya).
Ibu juga bukan tipikal wanita keibuan yang piawai dalam mengurus anak. Seingat saya, beliau tidak pernah membacakan cerita pengantar tidur atau sekedar bernyanyi nina bobok seperti Ibu-Ibu yang sering saya tonton di televisi.
Meski saya gak minum ASI, tapi saya tau dia mencintai saya. Meski diurus oleh baby sitter sejak kecil, saya tetap merasakan kasih sayangnya. Dan meski gak pintar memasak, saya tetap bisa merasakan perhatiaannya. Meski gak bisa menyetrika pakaian, dia berhasil membuat saya selalu merasa aman dan nyaman di dekatnya. Meski tidak pernah mendengar dia mendongeng atau bernyanyi nina bobok, saya tau dengan pasti bahwa dia selalu ada untuk saya.
Melalui ibu saya, saya belajar untuk menghargai ibu-ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif. Saya tidak menghakimi ibu-ibu yang memakai baby sitter dan tidak bisa mengurus anaknya sendiri. Saya juga tidak meremehkan ibu-ibu yang tidak piawai dalam mengerjakan urusan rumah tangga.
Melalui Ibu saya, saya tahu bahwa seorang Ibu punya sejuta cara untuk mencintai anak-anaknya.
Mungkin ibu saya dan beberapa ibu lain di luar sana gagal dalam memberikan ASI, harus menitipkan anaknya dengan baby sitter karena bekerja kantoran, tidak pernah memasak, dan tidak pandai bercerita, dan itu hanya empat cara yang gagal dari sejuta cara. Sehingga seorang Ibu masih memiliki 999.996 cara lainnya untuk menunjukkan rasa cintanya kepada anaknya.
Saya mencintai Ibu saya, dan saya bangga punya Ibu seperti dia. Tapi saya tahu, bahwa cinta Ibu saya jauh lebih besar dan dia jauh lebih bangga memiliki anak seperti saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar