Setelah melalui banyak aral melintang, akhirnya siang ini kesampaian juga nonton AADC 2 sama suami. Dan meski sudah mengetahui jalan cerita dan (mungkin) hampir setiap adegan yang terjadi dari spoiler yang bertebaran di sosmed tapi rasanya gak afdol kalau gak nonton langsung.
Di tulisan ini gue sih gak akan bahas cerita AADC 2 lagi, secara gue nontonnya juga udah telat banget kan? dan seperti yang gue bilang sebelumnya, udah banyak banget tulisan yang bahas AADC 2 dari segi jalan cerita. Yang mau gue tulis adalah lebih ke nasihat atau wejangan atau petuah atau apapun itulah sebutannya yang bisa dipelajari dari film ini *tsaaaaahhhhh.
Iyeee gue juga tau ini film cuma fiksi alias boong-boongan tapi kan gak dipungkiri juga kalau banyak terjadi adegan pembunuhan terjadi di dunia nyata karena pelakunya terinsipirasi dari film yang dia tonton. Atau bahkan kasus yang akhir-akhir ini lagi heboh kaya anak SD yang cipokan atau beradegan gak senonoh terus diposting di sosmed, karena nonton artis idolanya di sinetron yang cium-ciuman. Naaaah gue gak mau aja kalian para wanita mengikuti jejak Cinta, dan kalian para Pria sok-sok'an kaya Rangga.
1. Buat cowo-cowo
Abis nonton AADC 2 kalian jangan sekali-kali berani berpikir untuk ngedeketin mantan kalian lagi apalagi kalau mantan kalian sudah move on dan sudah punya kehidupan asmara lagi. Kenapa?? yaaaa paling simple adalah karena kalian gak seganteng Rangga, jadi jangan yaaa plisss jangan. Karena besar kemungkinan kalian akan ditolak dan lebih buruk lagi digebukkin sama pacar barunya mantan kalian.
Kedua, kalian jangan jahat-jahat amat lah. Nih ya gue kasih tau, buat kami kaum cewe kalau kami sudah jatuh cinta pakai hati beneran (dan bukannya pakai hati ayam atau hati sapi) sama satu orang cowo dan ujung-ujungnya tidak bisa bersama karena seperti Cinta yang diputusin Rangga gitu aja (atau kaya gue yang cintanya bertepuk sebelah tangan *laaah malah curhat colongan*) kemudian akhirnya kami berhasil membuka hati buat orang lain itu gak gampang. Jadi kalian jangan tiba-tiba datang trus mengaduk-aduk hati kami lagi.
2. Buat cewe-cewe
Pertama kalian gak usahlah galau-galau lagi jadi inget mantan yang udah ninggalin kalian apalagi kalau bersama kalian saat ini sudah ada seorang pria yang mencintai kalian dengan tulus. Yak kalau kalian ikut-ikutan kaya Cinta yang milih Rangga dibandingkan dengan Trian padahal udah jelas Trian lebih mapan (baca : tajir) yak kalian jangan mupeng lah kalau liat seleb instagram posting foto-foto tas Hermes sambil naik jet pribadi. Gue gak ngajarin kalian matre, tapi gue juga gak mau kalian cuma mengambil keputusan tanpa logika. Memang benar cinta tidak mengenal logika, tapi menikah itu perlu logika cuy!!!! Intinya kalau kalian mau meninggalkan pasangan kalian demi balikkan lagi sama mantan ya jangan berpikiran pendek alias cetek apalagi kalau alasannya biar sama kaya Cinta-Rangga *pppffttttt*
Kedua kalau kalian berpikir Rangga romantis dengan mengajak Cinta ke tempat-tempat eksotis yang katanya lebih bersifat travelling ketimbang liburan itu SALAH BESAR *YAAAK CAPSLOCK GUE JEBOOOL*. Gini ya gue itu udah menikah selama 7 tahun, dan kalau gue diajak ke Dove Hill itu yaaa pasti gue bakalan ngomel lah sama laki gue. Gue gak bilang tempat itu jelek, tapi realistis ajalah "jalan-jalan manja" di tempat dengan medan yang lumayan susah??? Okelah kalau kalian sama pasangan punya jiwa petualang tapi teteuuuup aja kan kalau kalian punya jiwa petualang yaaaa pergi ke Dove Hill itu bukan dengan alasan biar romantis kaya Rangga-Cinta.
Terakhir kalau kalian para cewe jomblo trus setelah nonton AADC 2 jadi mikir ya amppuuuunn gue mau banget punya cowo kaya Rangga yang cool,misterius, agak 'nyentrik', jutek-jutek lucu itu tolong dipikirkan baik-baik. Gak selamanya punya pasangan nyentrik itu asyik. Okelah kalau ngadepin nyentrik, jutek, cool, misteriusnya sesekali tapi kalau tiap hari (kaya gueeee) yaaaa wasalaaam sih hahahaha.
Cukup sekian dan terima cepeceng-an *ketjup satu-satu*
Rabu, 18 Mei 2016
Senin, 16 Mei 2016
Sepenggal kisah tentang Ibu
Memperingati mother's day tanggal 08 May 2016 kemarin, saat ini saya mau menuliskan sedikit mengenai Ibu saya. Foto perempuan dengan kebaya warna kuning diatas adalah Ibu saya, saat ini usianya hampir memasuki 60 tahun.
Sejak lahir, saya diberi susu formula karena ASI nya tidak lancar. Saya juga diurus baby sitter karena beliau bekerja (bahkan sampai saat ini beliau masih aktif bekerja di kantor membantu Ayah saya). Dan menurut cerita, sewaktu bayi saya juga tidak pernah dimandikan oleh beliau karena Ibu saya terlalu takut untuk memandikan bayi merah. Jadi saya dimandikan oleh baby sitter atau oleh Ayah saya jika kebetulan baby sitter berhalangan masuk.
Ibu saya bukan tipikal ibu rumah tangga. Dia tidak bisa memasak dan tidak pandai menyetrika. Jadi soal makanan di rumah, biasanya dimasak oleh Oma saya yang saat itu masih hidup atau bahkan oleh Ayah saya (dia jago sekali memasak, nanti kapan-kapan saya tulis tentang Ayah ya). Ibu juga bukan tipikal wanita keibuan yang piawai dalam mengurus anak. Seingat saya, beliau tidak pernah membacakan cerita pengantar tidur atau sekedar bernyanyi nina bobok seperti Ibu-Ibu yang sering saya tonton di televisi.
Meski saya gak minum ASI, tapi saya tau dia mencintai saya. Meski diurus oleh baby sitter sejak kecil, saya tetap merasakan kasih sayangnya. Dan meski gak pintar memasak, saya tetap bisa merasakan perhatiaannya. Meski gak bisa menyetrika pakaian, dia berhasil membuat saya selalu merasa aman dan nyaman di dekatnya. Meski tidak pernah mendengar dia mendongeng atau bernyanyi nina bobok, saya tau dengan pasti bahwa dia selalu ada untuk saya.
Melalui ibu saya, saya belajar untuk menghargai ibu-ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif. Saya tidak menghakimi ibu-ibu yang memakai baby sitter dan tidak bisa mengurus anaknya sendiri. Saya juga tidak meremehkan ibu-ibu yang tidak piawai dalam mengerjakan urusan rumah tangga. Melalui Ibu saya, saya tahu bahwa seorang Ibu punya sejuta cara untuk mencintai anak-anaknya.
Mungkin ibu saya dan beberapa ibu lain di luar sana gagal dalam memberikan ASI, harus menitipkan anaknya dengan baby sitter karena bekerja kantoran, tidak pernah memasak, dan tidak pandai bercerita, dan itu hanya empat cara yang gagal dari sejuta cara. Sehingga seorang Ibu masih memiliki 999.996 cara lainnya untuk menunjukkan rasa cintanya kepada anaknya.
Saya mencintai Ibu saya, dan saya bangga punya Ibu seperti dia. Tapi saya tahu, bahwa cinta Ibu saya jauh lebih besar dan dia jauh lebih bangga memiliki anak seperti saya.
Sejak lahir, saya diberi susu formula karena ASI nya tidak lancar. Saya juga diurus baby sitter karena beliau bekerja (bahkan sampai saat ini beliau masih aktif bekerja di kantor membantu Ayah saya). Dan menurut cerita, sewaktu bayi saya juga tidak pernah dimandikan oleh beliau karena Ibu saya terlalu takut untuk memandikan bayi merah. Jadi saya dimandikan oleh baby sitter atau oleh Ayah saya jika kebetulan baby sitter berhalangan masuk.
Ibu saya bukan tipikal ibu rumah tangga. Dia tidak bisa memasak dan tidak pandai menyetrika. Jadi soal makanan di rumah, biasanya dimasak oleh Oma saya yang saat itu masih hidup atau bahkan oleh Ayah saya (dia jago sekali memasak, nanti kapan-kapan saya tulis tentang Ayah ya). Ibu juga bukan tipikal wanita keibuan yang piawai dalam mengurus anak. Seingat saya, beliau tidak pernah membacakan cerita pengantar tidur atau sekedar bernyanyi nina bobok seperti Ibu-Ibu yang sering saya tonton di televisi.
Meski saya gak minum ASI, tapi saya tau dia mencintai saya. Meski diurus oleh baby sitter sejak kecil, saya tetap merasakan kasih sayangnya. Dan meski gak pintar memasak, saya tetap bisa merasakan perhatiaannya. Meski gak bisa menyetrika pakaian, dia berhasil membuat saya selalu merasa aman dan nyaman di dekatnya. Meski tidak pernah mendengar dia mendongeng atau bernyanyi nina bobok, saya tau dengan pasti bahwa dia selalu ada untuk saya.
Melalui ibu saya, saya belajar untuk menghargai ibu-ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif. Saya tidak menghakimi ibu-ibu yang memakai baby sitter dan tidak bisa mengurus anaknya sendiri. Saya juga tidak meremehkan ibu-ibu yang tidak piawai dalam mengerjakan urusan rumah tangga. Melalui Ibu saya, saya tahu bahwa seorang Ibu punya sejuta cara untuk mencintai anak-anaknya.
Mungkin ibu saya dan beberapa ibu lain di luar sana gagal dalam memberikan ASI, harus menitipkan anaknya dengan baby sitter karena bekerja kantoran, tidak pernah memasak, dan tidak pandai bercerita, dan itu hanya empat cara yang gagal dari sejuta cara. Sehingga seorang Ibu masih memiliki 999.996 cara lainnya untuk menunjukkan rasa cintanya kepada anaknya.
Saya mencintai Ibu saya, dan saya bangga punya Ibu seperti dia. Tapi saya tahu, bahwa cinta Ibu saya jauh lebih besar dan dia jauh lebih bangga memiliki anak seperti saya.
Senin, 02 Mei 2016
Tidak takut Tuhan
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat "takut akan Tuhan". Biasanya kalau kita mendoakan atau mengharapkan seorang pemimpin seperti Presiden, Gubernur, Walikota, dsb kita selalu menyelipkan kalimat "semoga menjadi pemimpin yang takut akan Tuhan". Harapannya dengan takut akan Tuhan, segala keputusan yang diambil, segala perbuatan, tindakan, kata-kata dan pemikiran adalah hal yang baik. Intinya dengan menjadi pribadi yang takut akan Tuhan maka orang tersebut bertindak tidak hanya untuk kepentingan/keuntungan diri sendiri melainkan bisa menjadi pribadi yang memiliki dampak positif kepada sesamanya. Namun rupanya tidak begitu dengan Kanaya. Dia punya pendapat sendiri mengenai kalimat tersebut. Jadi suatu hari, gue lagi ngobrol-ngobrol santai sama Naya. Dan sebagai ibu yang baik, ceritanya gue menyelipkan pesan-pesan moral ditengah obrolan santai kita.
Gue : "Naya, harus jadi anak yang takut akan Tuhan"
Naya : "kenapa harus takut sama Tuhan? takut itu sama orang yang jahat, tapi Tuhan itu kan baik.
Mungkin ada sekitar 5-10 detik gue bengong mendengar respon jawaban Naya, tapi dari jawaban tersebut gue punya satu pemikiran baru yaitu jadilah pribadi yang respect terhadap Tuhan. Karena seperti yang Naya bilang Tuhan itu baik, kenapa harus takut dengan sosok yang baik?
Lagipula kalau kita sekedar menaati perintah-Nya dengan dasar rasa takut, terkadang kita masih melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh Tuhan secara "diam-diam". Namun jika kita menaruh respect terhadap Tuhan, maka kita menyadari betul bahwa sesungguhnya Tuhan sudah mengasihi kita. Sehingga sebagai anak yang sudah dikasihi sedemikian rupa kita secara sadar mau menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan dan menaati segala perintah-Nya.
Langganan:
Komentar (Atom)
